Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Membaca 600 halaman biografi Steve Jobs, saya terkesan dengan sisi asketis (melepaskan kecenderungan pada hal-hal duniawi) kehidupannya. Sangat menarik menyimak kisah perjalanan spiritualnya ke India, ketidaktertarikannya pada uang, hingga gaya hidup vegetarian extrem serta kebiasaannya puasa. Berikut ini beberapa poin yang saya rangkum:

Perjalanan spiritual
Perjalanan spiritual Steve dimulai sejak dia kuliah di Reed College. Ketika tahun kedua memutuskan untuk berhenti kuliah karena masalah biaya, dia tetap tinggal di asrama kampus, Steve mulai sering berkunjung ke Krishna Temple--salah satu tujuannya untuk mendapatkan makan gratis. Bersama beberapa temannya yang memiliki minat yang sama di bidang spiritualitas, Steve membentuk grup All One Farm, yang secara rutin melakukan meditasi bersama. Puncak perjalanan spiritualnya adalah perjalananya ke India selama tujuh bulan. Saat kembali ke Amerika, pandangannya tentang masyarakat Amerika berubah total: 

"Kembali ke Amerika setelah tujuh bulan di desa-desa India, saya melihat kegilaan masyarakat barat dalam hal sikap rasional mereka. Jika kita duduk dan mengamati, maka kita akan sadar bahwa otak kita tak pernah istirahat untuk terus berpikir. Sebetulnya jika kita membiarkan intuisi (bukan rasio) kita bekerja, maka kita akan dapat melihat apa yang sebelumnya tidak bisa kita lihat.

Sebetulnya Steve Jobs ingin melanjutkan pencarian spritualnya ke Jepang untuk mempelajari Zen Budhisme, tapi pembimbing spiritualnya menyarankan agar Steve tetap tinggal di Amerika dengan sebuah nasihat "Jika kamu ingin pergi keliling dunia untuk mencari guru, maka kamu akan menemukannya di rumah sebelah". Nasihat gurunya terbukti beberapa tahun berikutnya. Steve menemukan seorang guru spiritual dari Jepang yang biasa memberikan ceramah tak jauh dari tempat Steve tinggal. Bahkan puluhan tahun berikutnya, gurunya itu menjadi wali untuk pernikahan Steve. 

Tentang pakaian
Sejak hidup di asrama kampus Reed College, Steve selalu berjalan tanpa mengenakan alas kaki. Bahkan di saat cuaca dingin, dia hanya memakai sandal. Sepulang dari India Steve muncul dengan jubah india--dan tetap tanpa alas kaki. Dengan gaya pakaian itulah dia mendatangi Hewlett-Packard (HP) tempat dia magang sebelum pergi ke India, dan melamar kembali untuk bekerja di sana. Gaya pakaian sederhana tetap menjadi ciri khas Steve saat menjadi orang nomor satu di Apple, pakaian kaos hitam lengan panjang dipadu dengan jeans menjadi ciri khasnya.

Tentang uang
Ketika Steve Jobs menginjak usia 25 tahun Apple go public, kekayaan Steve mencapai sekitar 2,5 triliun rupiah. Namun sikap Steve jauh berbeda dengan para pemegang saham lain atau karyawan Apple yang juga menikmati bonus dan gaji yang besar. 

"Saya menyaksikan orang-orang di Apple yang dapat uang banyak, mereka merasa harus mengubah gaya hidup. Sebagian dari mereka ada yang membeli Rolls Royce, rumah baru, operasi plastik. Itu bukan hal yang saya inginkan dalam hidup. Itu gila. Saya tidak ingin membiarkan uang mengacaukan hidup saya"

Saat ia tidak lagi di Apple, Apple mengalami kemerosotan drastis. Seorang investor ingin memanfaatkan situasi dengan membeli Apple yang saat itu harga sahamnya murah. Dia merayu Steve Jobs agar mau menjadi partnernya untuk mengambil alih Apple. Steve Jobs dengan heran bertanya pada si investor tadi, "Anda sudah punya sangat banyak uang, kenapa Anda masih ingin memliki Apple?" Meskipun akhirnya Steve Jobs kembali menjadi orang nomor satu di Apple, pada 2 tahun pertama dia hanya mau dibayar 1 dolar setahun. Dia ingin menunjukkan bahwa kembalinya ke Apple bukan untuk uang, tapi dia ingin mengemblaikan Apple pada spirit sejatinya.

Dalam menciptakan produk, spirit yang selalu dihembuskan Steve adalah kepuasan konsumen, bukan profit. 

"Saya senang memegang tanggung jawab atas kepuasan pelanggan. Kami tidak melakukan semua itu untuk uang, tapi kami ingin membuat produk hebat"

Pendangannya tentang ini seringkali bertentangan dengan eksekutif Apple lain yang cenderung berpikir tentang keuntungan.

"Menjadi orang terkaya ketika dikubur bukanlah hal penting bagi saya. Pergi tidur pada malam hari setelah menyelesaikan semua pekerjaan, itulah yang utama."

Tentang kehilangan
Dipecatnya Steve Jobs dari Apple, adalah peristiwa yang begitu menyakitkan. Bagaimana mungkin seorang dipecat dari perusahaan yang dia dirikan. Ketika menerima keputusan itu Steve Jobs menangis. Seperti dipisahkan dari anak yang dia lahirkan dan besarkan. Steve Jobs muda yang sempat pahlawan tiba-tiba jadi pecundang. Tapi Steve Jobs segera bangkit, dia mendirikan perusahaan komputer NEXT dan membeli Pixar yang kemudian kesuksesannya mengalahkan Disney. 

"Kadang-kadang hidup ini memukul kepalamu dengan bata, tapi, tapi jangan pernah hilang keimanan!"

Tentang kematian 
Sejak muda Steve sering mengatakan pada orang sekitarnya bahwa hidupnya tak akan lama, karena itu dia harus segera melakukan sesuatu yang berharga pada dunia. 

"Selalu ingat kematian adalah sarana terpenting untuk menentukan pilihan hidup"

"Berpikir bahwa suatu hari nanti kita akan mati, akan membantu kita terhindar dari rasa takut kehilangan sesuatu. Kita memang sudah telanjang. Maka tak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati."

"Tak seorang pun mau mati. Bahkan orang yang mau masuk surga, mereka tak mau mati untuk sampai ke sana. Tetapi kematian adalah akhir yang akan kita tuju. Tak ada yang bisa menghindarinya. Kematian adalah penemuan terbaik dalam hidup. Kematian adalah agen perubahan. Menghapus yang tua untuk memberikan jalan bagi yang muda. Sekarang yang muda itu adalah kita, tapi suatu hari nanti, kita akan segera tua, dan akan segera sirna." 

Tentang makanan
Sejak kuliah di Reed College, Steve sudah mulai menjalankan gaya hidup vegetarian. Bahkan saat bergabung dalam kelompok All One Farm, di mana di tempat mereka biasa meditasi terdapat kebun apel, Steve Jobs mulai terbiasa hanya makan apel. Selain karena pengaruh ajaran spiritualitas timur, dia juga terpangaruh oleh Mucusless Diet Healing karya Arnold Ehlet yang mengatakan bahwa pola hidup vegetarian dapat mencegah terbentuknya zat-zat mucus berbahaya dalam tubuh. Steve juga menjalankan puasa dalam waktu yang cukup lama hingga berminggu-minggu. Gaya hidup ini terus dia pertahankan hingga akhir hayatnya, meskipun karena haya hidup ini dia terserang kanker pankreas karena kekurangan protein (hewani).

Tentang barang
Sebagai seorang multibilioner dia bisa membeli mobil termahal atau pesawat terbang sekalipun. Tetapi dia hanya membeli sebuah mercedes, itu pun karena dia anggap mobil itu memiliki cita rasa desain yang tinggi. Di rumahnya tak ada furnitur atau sofa. Salah satu foto koleksi Diana Walker menggambarkan Steve sedang duduk bersila di ruang tengah rumahnya yang kosong tanpa perabot. Salah satu alasannya adalah bahwa tak ada furniture yang memenuhi slera desainnya yang perfeksionis. Ketika mau membeli mesin cuci, Steve berdiskusi setiap malam dengan istrinya selama seminggu penuh untuk menganalisa apakah mereka betul-betul membutuhkan mesin cuci, dan jenis mesin cuci apa yang mereka harus beli.

Tentang moral
Steve sangat ketat membuat standar seleksi atas aplikasi yang dipajang di Apple Apps Store. Dia tidak ingin ada aplikasi pornografi di sana. Kebijakan sensor itu menuai kecaman dari berbagai kalangan di Amerika yang menganut kebebasan individu. Tulisan bernada kecaman ditulis para blogger dan ratusan email dikirim kepada Steve Jobs. Salah satu email dikirim oleh seorang editor majalah pop yang mengatakan bahwa konsumen sudah cukup dewasa, sensor pornografi tidaklah relevan. Menjawab email itu Steve menulis, "Kamu akan tahu mengapa saya tidak mengizinakn pornografi jika kamu memiliki seorang anak kecil"

Tentang seni
Steve Jobs menggambarkan dirinya sebagai orang yang berada di sebuah titik di antara seni dan teknologi. Dia adalah pecinta musik. Bob Dylan, seorang penyair-penyanyi adalah pahlawannya. Suksesnya mengubah peta industri musik dengan iTunes dan iPod disebabkan kecintannya pada musik--Microsoft gagal di industri ini karena Bill Gates bukan penyuka musik. Pengalamannya mengikuti kelas kaligrafi saat di Reed College adalah momen yang behasil mengasah cita rasa seni Steve yang mengantarkan Apple sebagai produk bercitarasa seni. Steve juga mengagumi Yo-Yo Ma, seorang musisi klasik pemain cello. Karena Yo-yo Ma tidak bisa memenuhi permintaan Steve Jobs untuk tampil pada upacara pernikahan, Yo-Yo ma datang secara khusus ke rumah Steve untuk memainkan cellonya. Menanggapi permainan cello Yo-yo ma Steve berkata,

"Permainan cello mu adalah argumen terbaik bahwa tuhan itu ada, karena saya tidak yakin bahwa manusia tanpa bantuan tuhan bisa memainkan cello seindah ini"

---

Itulah beberapa poin yang bisa saya tangkap dari biografi Steve. Di samping berbagai sifat buruk dan kekurangan Steve Jobs yang juga diungkap secara jujur dalam biografinya, Steve Jobs mengajarkan kepada kita bagaimana menciptakan sesuatu yang dahsyat ketika kita hidup di dunia tanpa harus terikat atau dimotivasi oleh hal-hal yang bersifat duniawi. 

--Irfan Amalee, Boston Jan 2012

izmiya wrote on Jan 16
caranya hidup sangat menginspirasi ^^
imazahra wrote on Jan 18
Belum punya bukunya, mahal pisan euy di sini :-p
expertoha wrote on Jan 21
luar biasa..
Add a Comment